Kamis, 15 Oktober 2015

Novel Perjalanan Sosok SM3T di Pelosok Nunukan



Design Cover diadaptasi dari baju kerja SM3T
Penulis: Yuniastari Inanahayu, S.Pd




 Eps
Liku-Liku SM3T Nunukan Paling Hulu

¯Perjalanan ini terasa sangat mengesankan
¯Sayang engkau tak duduk di sampingku kawan
¯Banyak cerita yang mestinya kau saksikan di tanah kering bebatuan
¯Oooo hooooo hoooo hoo….
¯Tubuhku terguncang beralas batu jalanan
¯Hati tergetar menampa lebat pepohonan
¯Perjalanan ini pun seperti jadi saksi
¯Gembala kecil merantau diri….
(Lagu Ebit G Ade versi SM3T)
(Hari pertama di tanah Nunukan, 18 September 2013)
             Foto di atas adalah saksi sampainya saya di rumah Kepala SDN 005 Tulin Onsoi Bapak Petrus Pite di Sekikilan Kecamatan Tulin Onsoi Kabupaten Nunukan. Satu hal berkesan bagi saya bisa menginjakkan kaki di tanah Provinsi Kalimantan Utara ini. Sungguh bersyukur saya dipertemukan dengan orang-orang baik seperti keluarga Kepala Sekolah yang menyambut saya seperti keluarga sendiri. Kebetulan juga wajah anak pertama kepala sekolah mirip dengan saya katanya. Saya pun akhirnya dianggap seperti anak beliau sendiri. Inilah keluarga pertama saya di bumi perantauan.
Dan saya pun berkata dalam hati “Welome Bu Ayu di bumi Nunukan.
Cinta Tanah Air adalah sebagian dari iman (Alhadits).” 
@_u
                            
 

                                           
Petikan Hikmah SM3T (Lesson Learn)
Hubbul Wathon Minal Iman
Cinta Tanah Air itu sebagian dari iman


Selanjutnya perjalanan saya menuju sekolah penempatan yaitu SDN 005 Tulin Onsoi. SD paling hulu yang jarang didatangi oleh orang-orang kota. Desa paling jauh dari segala yang berhubungan dengan keramaian. Paling primitif dan paling sensitif. Di sini saya ditempatkan mengabdi dan diterima baik oleh pihak sekolah terutama oleh anak-anak hulu. Di sini saya mulai belajar makna kehidupan dan membelajarkan pengertian. 
@_u
                    
Kelas IV SDN 005 TULIN ONSOI
Yang tak terlupakan
Bersama kepala sekolah+guru honor+guru bantu TNI


   Ini rumah dinas saya selama mengabdi                                        




ini keadaan sekolah tampak dari depan rumah dinas
                                                                                             

Di pelosok ini saya ditugaskan selama satu tahun.

Petikan Hikmah SM3T (Lesson Learn)
Tidak sekedar mengajar tapi juga belajar makna kehidupan.
Orang diangggap ada bukan karena jabatannya tapi karena pemberiannya pada hal-hal kecil yang jarang terperhatikan.
Menjadi Wali kelas di kelas IV
Inilah anak-anak kelas IV yang akan saya ajar. Ruangan kelas yang tidak terlalu sempit ini akan menjadi tempat mengajar saya selama satu tahun selama menjabat sebagai wali kelas IV. Senangnya saya diterima oleh anak-anak hulu. Kelas ini hanya terdiri dari  I7 anak. Pakaian yang mereka kenakan adalah seragam olahraga. Kebetulan saat saya datang pertama kalinya tepat hari Jum’at hari olahraga untuk SDN 005 Tulin Onsoi.
Jika diperhatikan dengan seksama kelas ini miris sekali. Hanya ada meja dan kursi guru serta 9 meja anak-anak dan kursi plastik yang sudah patah-patah. Lantainya yang hanya beralaskan tanah. Sepi rasanya kelas ini. Masih ada beberapa anak datang ke sekolah meski tanpa sepatu dan tanpa tas. Hanya membawa satu pena dan satu buku. Motivasi belajar sebenarnya ada. Hanya keadaan yang mungkin kurang mendukung mereka untuk memahami makna belajar.  Tapi saya bangga ada di tengah-tengah mereka. Di tengah jundi-jundi kecil yang mau belajar. Ditempatkan di antara anak-anak yang masih mau sekolah meskipun mereka berada di daerah paling hulu… SDN 005 Tulin Onsoi. SD paling hulu di Kecamatan Tulin Onsoi
Selanjutnya guru SM3T pun beraksi.  Hehe :D  Anak-anak SDN 005 Tulin Onsoi spontanitas mengaktualisasikan diri. Belajar dengan penuh semangat. Mulai menghias dinding kelas. Menampung batu-batu kerikil  untuk dijadikan teras kelas. Memperhatikan sekitar dan akhirnya motivasi belajar mulai nampak dari prilaku mereka setiap harinya.
                Inilah siswa kelas IV dengan berbagai kekurangan dan kelebihannya. Saya menyayangi mereka.

Kelihatan lebih ramai dan tidak kosong. Harapannya anak-anak lebih bersemangat saat belajar. Meskipun dimulai dengan sesuatu yang sederhana…

Petikan Hikmah SM3T (Lesson Learn)
Sesuatu yang sederhana itu jangan diartikan miskin atau tak punya ataupun pelit.
Justru yang sederhana itu yang menenangkan
…..yang menyenangkan
….yang dekat dengan syukur



Hikmah peristiwa Ibu Mirna

Foto ini diambil ketika perpisahan sederhana anak-anak dengan Ibu Mirna (baju biru). Beliau adalah teman guru sukarelawan yang baru mengajar di SDN 005 Tulin Onsoi dari Sulawesi. Beliau harus pulang kembali ke Sulawesi karena sering sakit ketika di hulu ini. Usut punya usut sakitnya karena sering mengalami kerasukan. Maklum daerah hulu adalah daerah primitif dan sangat sensitif. Kenapa beliau sering kerasukan adalah karena pernah tidak sengaja bersumpah begini “saya tidak akan pernah menginjakkan kaki di Kalimantan lagi” dan kata-kata itu menjadi bumerang bagi dirinya sendiri selama tugas di Kalimantan. Ini menjadi pelajaran berharga bagi saya bahwa tidak dibolehkan mengeluarkan kata-kata yang tidak selayaknya dikatakan terutama di daerah primitif seperti di hulu dimanapun juga. Dari sini banyak hikmah yang saya dapat. Niatan saya mulai saya luruskan kembali. Saya tulus mengabdi di tempat saya bertugas. Semoga selalu selamat sehat dan tak kurang suatu apapun sampai pulang kembali ke Jawa. Amiin. Lebih banyak belajar mengasah iman kembali di sini.

Petikan Hikmah SM3T (Lesson Learn)
Ingatlah seorang perantau atau bahkan musafir harus punya prinsip ini:
DIMANA BUMI DIPIJAK
DI SITU LANGIT DIJUNJUNG
dan
dimanapun kita berada…. jagalah LIDAH
karena ia bisa jadi bumerang bagi diri sendiri

Tunggu kelanjutan kisahnya setelah novel terbit ya ^_^